Kondisi Bogor pada tahun 1945

228

Kedatangan Sekutu yang membonceng tentara Belanda membawa agenda terselubung untuk kembali menguasai Indonesia. Setelah Jepang menyerah tanpa syarat pada pihak Sekutu itulah sempat terjadi kekosongan kekuasaan selama 4 bulan. Masa yang cukup pendek dalam perjalanan sejarah bangsa tersebut dikenal dengan “Masa Bersiap” atau “Bersiap-tijd”.

Masa Bersiap adalah masa yang sangat kritis dan menentukan yang digambarkan sebagai masa yang penuh dengan kekacauan dan sarat akan berbagai aksi kejahatan seperti perampokan, penjarahan, bahkan pembunuhan yang digambarkan sebagai Revolusi Sosial.

Rakyat Bogor dalam kawalan ketat serdadu bersenjata NICA
Rakyat Bogor dalam kawalan ketat serdadu bersenjata NICA

 

Munculnya berbagai tindak kekerasan tersebut adalah karena adanya kekosongan kekuasaan (vacum of power) sehingga tidak ada yang mampu mengontrol situasi dan keadaan. Pada masa yang bersamaan Pemerintahan Jepang telah runtuh, sementara Pemerintah Baru Indonesia masih cukup lemah.

Seperti disampaikan oleh van Doorn, “… Maar voor goed begrijp van de maatschappelijken historische betekenis van deze periode is het nuttig te beseffen dat de bersiap veel meer was; een revolutionair proces, waarbij met geweld van wapenen een sociale opstand werd doorgevoerd en een collectief nationaal sentiment werd gedemonstreed, gericht tegen terugkeer van de kolonie (van Doorn, 1983).

Artinya, masa bersiap secara sosial-historis ditafsirkan sebagai suatu proses perubahan yang revolusioner, di mana terjadi suatu gerakan sosial dengan kekerasan/bersenjata yang disertai sentimen nasional secara kolektif yang ditujukan terhadap penguasa kolonial yang hendak berkuasa kembali.

Banyak sejarawan yang berpendapat bahwa periode ‘Bersiap’ itu berlangsung dari 1 September 1945 hingga 1 Januari 1946, pada masa Rakyat Indonesia serentak bangkit menentang kembalinya kolonialisme Belanda. Pekik perjuangan yang terdengar pada masa itu adalah ‘Bersiap!”. Pada masa tersebut para pemuda beserta rakyat dengan bersenjatakan bambu runcing, golok dan sedikit senjata api hasil rampasan Jepang menyerang pos-pos tentara NICA-Belanda.

Bogor pada masa bersiap

Pada bulan Oktober 1945 merupakan awal terjadinya kekacauan di Bogor. Pada bulan ini banyak terjadi kasus penculikan terhadap orang-orang Eropa yang dilakukan oleh kaum republikein.

Meski pada tahun tersebut otoritas RI sudah berdiri di Bogor, namun mereka tidak menguasai situasi dan kondisi yang sebenarnya. Pengawasan terhadap berbagai aksi kekerasan masih sangat kurang, terutama untuk mencegah kemarahan para pendukung RI yang melampiaskannya emosi mereka pada orang-orang Eropa dan Indo dengan cara yang berlebihan. Dua kamp intemiran /Kamp Bersiap didirikan di Depok dan Bogor.

Pada tanggal 10 – 11 Oktober 1945, sedikitnya 4000 orang datang ke Depok dengan menggunakan berbagai sarang angkutan, mulai dari kereta api, truk, bahkan dengan gerobak sapi (kahar). Intelijen Belanda segera melaporkan kedatangan ribuan orang tersebut dengan sepengetahuan aparatur pemerintah dan pihak kepolisian RI.

Situasi yang mencekam tersebut membuat sebagian orang – orang Eropa di Depok meminta bantuan pada Sekutu di Jakarta, namun hal itu ditolak Sekutu dengan alasan tidak ada perintah resmi. Berbagai aksi penjarahan, dan pengusiran pun terjadi di beberapa wilayah di Depok. Target utama mereka adalah penduduk Kristen Eropa dan Indo.

Situasi saat itu benar-benar tidak terkendali, bahkan mereka pun tidak memiliki tempat bersembunyi yang aman. Apalagi di sekitar hutan pun masih banyak perampok yang bisa mengambil hartanya dan mencelakakannya. Menurut laporan pihak intelijen dan keamanan, aksi-aksi tersebut sangat terorganisir yang artinya ada orang atau kelompok tertentu yang berada di balik aksi-aksi kekerasan yang terjadi .

Dalam peristiwa tersebut, 33 orang Eropa tewas, sedangkan di tempat lain, laki-laki dewasa Depok diculik dan dibawa ke Bogor, sehingga hanya menyisakan kaum perempuan dan anak-anak saja yang jika dihitung jumlahnya sekitar 1050 orang. Mereka semua ditawan di sebuah lumbung yang sangat sempit.

Sikap pasif dari aparatur dan polisi RI membuat aksi-aksi kekerasan yang dilakukan secara perorangan maupun secara kelompok itu pun semakin meluas. Salah satunya adalah pada tanggal 13 Oktober, sekitar 10 orang warga Depok dibunuh, selain itu semua penduduk Eropa diburu oleh BKR dan para Pelopor (yang dikenali dari pita yang diikatkan pada lengannya). Mereka semua ditangkap dan dikumpulkan di stasiun kereta Depok (Depok Lama), semua perhiasannya dilucuti dan harta mereka di jarah.

Pada tanggal 16 Oktober 1945, seorang wartawan yang bernama Johan Fabricius pada saat menuju Bogor dari Jakarta dengan menggunakan sepeda motornya , pada saat melewati  Depok itulah ia merasa ada sesuatu yang sedang terjadi di Depok. Ia pun segera melaporkan penemuannya itu pada pihak Sekutu di Bogor, dan pada sore harinya satu peleton pasukan Gurkha pimpinan Letnan de Winter segera dikirim ke Depok.

Bagian 1 | lanjut ke Bagian 2 

1
2
3
4
SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here