Kisah Keris Pembawa Petaka, Hikayat Ken Arok dan Mpu Gandring

96

Kisah tentang Ken arok dan Keris Mpu Gandring sudah menjadi legenda di masyarakat Indonesia. Dikisahkan bahwa keris yang belum selesai itu telah dikutuk oleh Mpu Gandring menjadi keris pembawa petaka bagi siapa saja yang menguasainya.

Kisah ini terdapat dalam kitab Pararaton atau Katuturanira Ken Arok (1478-1489). Selain kisah mengenai keris kutukan tersebut, legenda tersebut juga menggambarkan bagaimana peristiwa berdarah dibalik perebutan kekuasaan Kerajaan Singosari yang didirikan oleh Ken Arok.  Selama kurun waktu tersebut, keris kutukan Mpu Gandring dikisahkan telah merenggut enam jiwa yang semuanya memiliki keterkaitan dengan Ken Arok.

Matinya Mpu Gandring

Pada satu waktu, Ken Arok terpesona oleh kecantikan Ken Dedes, Istri dari Tunggu Ametung. Ia pernah mendengar dari pendeta Lohgawe bahwasanya siapa pun orang yang dapat menjadikan Ken Dedes sebagai istrinya maka orang tersebut akan menjadi raja besar yang sangat disegani. Dengan menyimpan sebuah ambisi yang besar, Ken Arok meniatkan tekadnya untuk membuh Tunggul Ametung demi mendapatkan Ken Dedes.

Ayah Angkat Ken Arok yaitu Bango Samparang sudah mengetahui niatan putra angkatnya itu, dan menyarankan agar Ken Arok memesan keris pada sahabatnya, Mpu Gandring yang saat itu cukup terkenal sebagai seorang pembuat keris yang ampuh di Lulumbang.

Tak perlu menunggu lama, Ken Arok segera berangkat untuk menemui Mpu Gandring. Ia meminta agar keris pesanannya itu bisa diselesaikan dalam waktu lima bulan. Tapi Mpu Gandring meminta waktu satu tahun untuk proses pembuatannya.

Lima bulan kemudian Ken Arok mendatangi rumah di pandai besi itu untuk mengambil keris pesanannya. Sesampainya di sana, ia mendapati si Mpu sedang mengasah kerisnya tersebut, dan karena memang belum sepenuhnya selesai maka Mpu Gandring menolak memberikan keris tersebut pada Ken Arok.

Karena merasa tidak sabar harus menunggu waktu beberapa bulan lagi, Ken Arok pun segera merebut keris tersebut lalu menikam Mpu Gandring dengan keris yang belum selesai itu.

Sebelum tewas, Mpu Gandring mengutuk bahwa Ken Arok dan tujuh turunannya akan mati oleh keris tersebut. Oleh lantaran merasa bersalah, ia pun berjanji jika ambisinya menjadi raja sudah terwujud maka ia akan menunjukkan terima kasihnya kepada keturunan Mpu Gandring.

Matinya Tunggul Ametung

Semasa berada di Tumapel, Ken Arok berkawan akrab dengan Kebo Ijo, seorang yang sangat dekat dan dipercaya oleh Tunggul Ametung.  Dengan cerdiknya, Ken Arok berhasil membuat Kebo Ijo tertarik pada keris berukiran kayu cangkring yang dimilikinya. Ia pun meminjamkan keris tersebut pada Kebo Ijo.

Kebo Ijo dengan bangganya memamerkan keris tersebut pada semua orang di Tumapel. Pada suatu malam, Ken Arok mengambil keris tersebut dengan diam-diam dari Kebo Ijo. Keris itu kemudian digunakannya untuk menikam Tunggul Ametung yang sedang tertidur lelap dan meninggalkan keris tersebut tetap tertancap di dadanya.

Matinya Kebo Ijo

Kematian Tunggul Ametung membuat heboh semua orang di Tumapel apalagi keris yang masih menancap itu diketahui milik Kebo Ijo yang sebelumnya pernah dipamer-pamerkan.  Mereka pun segera menuduhnya sebagai pembunuh Tunggul Ametung, lalu mengeroyok dan membunuh Kebo Ijo dengan kerisnya itu.

Sedangkan Ken Arok, ia melenggang dengan bebasnya karena terbebas dari tuduhan namun tetap saja ia tidak terbebas dari kutukan Mpu Gandring.  Saat melihat Kebo Randi yang masih kecil menangisi kematian ayahnya, Kebo Ijo, Ken Arok pun merasa iba lalu mengangkatnya menjadi seorang  abdi (pekatik).

Usai peristiwa itu, Ken Arok pun melancarkan rayuannya pada Ken Dedes dan berhasil memperistrinya. Tidak ada satupun orang Tumapel yang berani mengganggu gugat, termasuk juga keluarga Tunggul Ametung.

Apa yang telah diramalka oleh pendeta Lohgawe pun terbukti, Ken Arok berhasil mengalahkan Raja Kediri, Kertajaya alias Dandang gelis. Ia pun mendirikan Kerajaan Singasari pada tahun 1222.

Matinya Ken Arok 

Saat Ken Dedes diperistri oleh Ken Arok, ia sebenarnya tengah mengandung tiga bulan, hasil hubungannya dengan Tunggul Ametung. Saat anaknya lahir, kemudian diberinama Anusapati.

Dari hubungannya dengan Ken Arok, Ken Dedes melahirkan tiga putra dan satu putri yang masing-masing bernama Mahisa wunga Teleng, Panji Saprang, Agni Bhaya, dan Dewi Rimbu. Sedangkan dari pernikahannya dengan Ken Umang, ia mendapatkan tida putra dan seorang putri yaitu Panji Tohjaya, Panji Sudatu, Tuan Wregola, dan Dewi Rambi.

Selama hidupnya, Ken Dedes selalu merahasiakan kematian suami pertamanya, Tunggul Ametung. Namun saat Anusapati sudah dewasa, ia bertanya pada ibunya mengapa Sang Amurwabhumi (Ken Arok) memperlakukannya berbeda dibanding saudara-saudaranya yang lain. Ia pun bertanya kenapa Mahisa wunga Teleng yang dinobatkan sebagai raja Kediri bukan dirinya yang merupakan saudara tertua mereka.

Ken-Dedes

 

Ken Dedes pun akhirnya membongkar rahasia yang selama ini dipendamnya. Anusapati bukanlah anak kandung Ken Arok, ia hanyalah seorang anak tiri yang ayahnya telah mati dibunuh oleh Ken Arok. Mendengar hal itu, naik pitamlah Anusapati. Ia pun meminta keris Mpu Gandring yang selama ini disimpan oleh Ken Dedes.

Senja hari pada tahun 1247 atau dalam Negarakertagama disebutkan tahun 1227, Anusapati menyuruh Ki Pengalasan dari Desa Batil untuk membunuh Ken Arok. Ki Pengalasan berhasil menjalankan misinya dengan membunuh Ken Arok yang sedang makan.

Matinya Ki Pengalasan 

Misi berhasil, Ki Pengalasan pun melaporkan kabar baik itu pada sang majikan. Anusapati pun segera memberinya hadiah. Namun lantaran takut Ki Pengalasan membuka rahasia siapa yang telah menyuruhnya membunuh Ken Arok, ia pun kemudian membunuhnya.

Matinya Anusapati 

Setelah kematian Ken Arok, Anusapati kemudian dinobatkan sebagai raja Singasari. Namun Anusapati menjadi orang yang selalu merasa khawatir akan keselamatan jiwanya, sampai-sampai dibuatkan selokan mengelilingi kamar tidurnya dan halamannya dijaga ketat oleh orang-orang kepercayaannya.

Panji Tohjaya, anak Ken Arok dari Ken Umang mengetahui bahwa Ki Pengalasan hanyalah orang suruhan Anusapati yang diberi misi menghabisi ayahnya. Ia pun melakukan siasat dengan berpura-pura mengajak Anusapati menyabung ayam.  Saat itu ia berhasil meminjam keris Mpu Gandring dari Anusapati lalu menukarkannya dengan keris lain.

Saking terlenanya dengan sabung ayam membuat Anusapati dengan mudah dibunuh oleh Tohjaya. Anusapati bersimpuh bersimpah darah dengan keris Mpu Gandring menancap di dadanya.  Kejadian tewasnya Anusapati terjadi pada tahun 1249 , namun dalam Negarakertagama disebutkan kalau Anusapati mati dengan cara yang wajar.

Matinya Tohjaya 

Meski bukan mati disebabkan oleh keris Mpu Gandring, namun kematian Tohjaya masih memiliki kaitan dengan kisah-kisah sebelumnya.

Semasa berkuasa, Tohjaya sering diliputi oleh rasa cemas dan ketakutan, kecurigaannya bertambah besar pada Rangga Wuni, anak dari Anusapati.

Rangga Wuni yang menyimpan dendam atas kematian sang ayahanda, mencari bantuan dan bersekutu dengan Mahisa Campaka, anak Mahisa Wunga Teleng yang tidak terima tahta kerajaan Kediri dipegang oleh Tohjaya.

Pada suatu masa, Rangga Wuni melakukan pemberontakan dengan menyerang istana. Dalam peristiwa itu, Tohjaya berhasil melarikan diri. Namun karena luka-luka yang dideritanya termasuk parah, Tohjaya pun tewas dalam pelariannya.

perang kerajaan

 

Setelah itu, Rangga Wuni naik tahta dan memerintah Kerajaan Singasari dan menyandang gelar Sri Jaya Wisnuwardhana. Sedangkan Mahisa Cempaka ikut memerintah dengan gelar Narasimhamurti. Mereka berdua melakukan penyatuan Kerajaan Singasari dan Kediri. Negarakertagama mengibaratkan keduanya sebagai Wisnu dan Indra.

Itulah kisah keris pembawa petaka Ken Arok dan Mpu Gandring.

 

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here