Ambisi Gajah Mada dan Perang Bubat

142

Setelah bertahun-tahun lamanya, sebagian kota di Jawa Barat kini resmi memiliki nama Jalan Hayam Wuruk dan Jalan Majapahit. Penamaan jalan tersebut dibuat sebagai wujud rekonsiliasi hubungan antara suku Jawa dan Sunda. Penyebabnya tak lain adalah peperangan yang pernah terjadi antara Majapahit dengan Sunda di lapangan Bubat pada tahun 1357.

Lokasi terjadinya Perang Bubat diperkirakan terletak di utara Kota Majapahit. Di tempat inilah raja Sunda, permaisuri, puteri, para pengiring dan pengawal beristirahat sembari menunggu diterima oleh Hayam Wuruk. Namun nahas, di tempat itu pula mereka semua menemu ajalnya.

Dalam Gajah Mada: Biografi Politik, arkeolog Aris Munandar menuturkan bahwa peristiwa Bubat bisa dianggap sebagai titik balik dari kesuksesan karier Mahapatih Gajah Mada. Ketika Sumpah Palapanya hampir sempurna dibuktikan, ia justru menggagalkannya sendiri.

Peristiwa Bubat diawali oleh rencana pernikahan puteri Sunda, Dyah Pitaloka dengan Raja Hayam Wuruk. Untuk maksud tersebut, sebagaimana dikisahkan dalam Pararaton dan Kidung Sunda, Raja Sunda beserta rombongan pun kemudian mendatangi Majapahit.

Namun kedatangan rombongan dari kerajaan Sunda itu jusru dianggap dalam perspektif politik berbeda oleh Gajah Mada. Kedatangan rombongan itu dianggapnya sebagai sebuah kelemahan, karena seorang penguasa Sunda mau saja datang ke Majapahit untuk mengantarkan putrinya. Terlebih lagi pada masa itu, Kerajaan Sunda merupakan satu-satunya wilayah yang belum dikuasai oleh Majapahit seperti kerajaan lain yang ada di Pulau Jawa.

Pernikahan antara putri Kerajaan Sunda dan Raja Hayam Wuruk pun gagal. Dua naskah kuno menyebutkan gagalnya pernikahan itu akibat ambisi Gajah Mada yang terlalu bernafsu menaklukkan Kerajaan Sunda di bawah kekuasaan Majapahit.

Namun rencana Gajah Mada tidak berjalan mulus. Orang-orang Sunda menolah perintahnya. Mereka tidak ingin sang puteri dibawa sendiri ke Istana Majapahit untuk diserahkan kepada Hayam Wuruk sebagai tanda bahwa Kerajaan Sunda telah takluk. Padahal sedari awal, kedatangan mereka mengantarkan sang puteri semata-mata untuk dinikahkan dengan Raja Majapahit.

Puncaknya, ketegangan berubah menjadi peperangan. Peristiwa berdarah pun tak bisa dihindarkan. Lapangan Bubat menjadi ajang pembantaian yang dilakukan sang patih bersama anak buahnya. Hampir semua orang Sunda yang ikut rombongan tewas, tak terkecuali sang raja, patih, para menteri dan bangsawan yang diundang untuk ikut mengantar. Sedangkan permaisuri, istri-istri pejabat, dan sang puteri bunuh diri.

Peristiwa Bubat memperlihatkan bahwa untuk mencapai ambisinya, Gajah Mada tak segan-segan memanfaatkan perasaan Hayam Wuruk. Dia memancing raja Sunda untuk datang ke Majapahit karena merasa diri tidak mampu jika harus mengalahkannya langsung di wilayah asalnya. Apalagi kerajaan Sunda terlahir dari peradaban yang lebih kuno yang membuatnya segan.

Di sisi lain, Gajah Mada juga memanfaatkan emosi raja Sunda yang tak punya pilihan lain selain mengantarkan puterinya sebagai tanda takluk kepada Majapahit atau beperang sampai mati demi membela kehormatannya. Raja Sunda merasa jika dia pulang tanpa melawan, maka akan menjadi aib sepanjang masa di hadapan rakyatnya. Dia akan dicap sebagai raja yang gagal melangsungkan pernikahan puterinya.

Peristiwa inilah yang kelak melonggarkan hubungan antara Sunda dan Majapahit yang seharusnya diteguhkan dengan ikatan perkawinan. Padahal kalau saja Gajah Mada tidak terlalu memperdulikan ambisinya itu, maka besar kemungkinan Kerajaan Sunda bisa dirangkul sebagai negara mitra stata Kerajaan Majapahit sebagaimana disebutkan dalam Nagarakrtagama terhadap sejumlah negara lain yag menjalin hubungan persahabatan dengan Majapahit.

Perang Bubat menjadi penyebab Gajah Mada tidak lagi dipercaya oleh keluarga kerajaan. Ia membuat Hayam Wuruk kehilangan cintanya. Selain itu, hubungan Majapahit dan Sunda pun kian memburuk.

Maka, kata agus, untuk membersihkan namanya, Gajah Mada kemudian merancang serangan ke Dompo. Ia sendiri yang memimpin ekspedisi tersebut.

“Pertama, untuk menghindari cercaan terhadap dirinya. Kedua, ini untuk mendapatkan kembali kepercayaan keluarga kerajaan terhadap dirinya. Ketiga, sebagai bentuk hukuman kepada dirinya sendiri,” jelas Agus.

Adapun bagi Kerajaan Sunda, dampak peristiwa Bubat tidak cukup besar untuk meruntukannya. Kerajaan ini justru semakin bertambah besar setelah Prabu SIliwangi dinobatkan untuk menggantikan Prabu Wangi yang gugur di Perang bubat.

Kerajaan Sunda baru runtuh setelah diserang oleh pasukan Banten pada 1579 setelah 60 tahun runtuhnya Majapahit sebagaimana yang diperkirakan oleh arkeolog Hasan Djafar yaitu tahun 1519.

Namun begitu, meski telah dipaparkan secara gamblang dalam Pararaton, namun banyak ahli sejarah yang meragukan keberadaan Perang Bubat. Mereka menganggap Perang Bubat tak lebih dari tuturan yang disisipkan oleh penulis Pararaton.

Tapi sebaliknya, ada pula yang menganggap mengingkari kisah Perang Bubat adalah hal yang aneh. Jika kisah Ken Arok dalam Pararaton yang mistis saja bisa dipercaya, kenapa Perang Bubat justru dianggap sebagai dongeng pengantar tidur belaka. Bahkan tak sedikit yang mengatakan bahwa perang ini hanya rekaan dari orang-orang Belanda yang meneliti Pararaton dan berbagai alasan lainnya.

Terlepas dari itu semua, jika memang Perang Bubat tidak diakui pernah ada, maka seharusnya gelar Siliwangi pun tidak akan pernah ada karena gelar itu muncul setelah kematian Raja Sunda yang bergelar Prabu Wangi.

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here