Asal usul Jakarta dan Batavia …

86
batavia

Pada 4 Maret 1621, para pejabat dari Kongsi Dagang Hindia Timur atau VOC meresmikan penggunaan nama BATAVIA untuk benteng yang didirikan oleh Gubernur Jenderal Jan Pieterzoon Coen yang lokasinya tak jauh dari muara Ciliwung.

Benteng ini didirikan oleh JP Coen sekitar tahun 1617 atau setahun sebelum kedatangan Inggris (1618). Saat itulah, Coen pergi ke Banda untuk mencari bantuan, sementara di anak buahnya masih berusaha menahan laju serangan Inggris yang saat itu bersekutu dengan Pangeran Jayakarta.

Jan Pieterszoon Coen
Jan Pieterszoon Coen

Dalam “Nusantara: Sejarah Indonesia” karya Bernard H.M Vlekke, benteng buatan Belanda itu selamat bukan karena kepahlawanan orang-orang yang mempertahankannya, melainkan karena dilandasi oleh keinginan Inggris dan Pangeran Jayakarta yang ingin menguasai benteng tersebut. Sementara Sultan Banten pun tidak mau membiarkan benteng itu jatuh ke tangan mereka.

Pada akhirnya, Jayakarta kemudian berhasil direbut oleh Kesultanan Banten dan Pangeran Jayawikarta pun diusir keluar dari wilayah tersebut. Adapun Inggris mundur karena sangat mengkhawatirkan pemukiman dan juga barang-barang mereka yang berada di pelabuhan Banten.

Hal ini sontak memberikan keberanian baru pada garnisun Belanda. Pada malam hari, sambil berpesta pora dengan anggur dan para wanita, mereka bersumpan akan mempertahankan benteng itu.

Namun kemudian, para perwira mendapati bahwa benteng itu tidak memiliki nama. Dalam pertemuan semua anggota garnisun ada 12 Maret 1619, diputuskan bahwa benteng itu bernama BATAVIA.

batavia

Armada Coen baru kembali dari Banda pada 28 Mei 1619, dua hari setelahnya ia mengerahkan 1000 orang pasukan untuk menyerang pasukan Kesultanan Banten. Dengan hanya satu orang yang gugur dari pihaknya, Kota Jayakarta dengan mudah bisa ditaklukkan.

Akan tetapi, walaupun pasukannya menang telak namun ketika melihat nama Batavia terpampang di dinding benteng, ia pun merasa kecewa dan marah besar.  Coen lantas memerintahkan untuk membangun benteng baru yang lebih besar. Karena ia berasal dari Hoorn, Coen ingin agar bentengnya itu dinamai “Nieuw Hoorn”.

“Masa itu rasa provinsialisme sedang menjangkiti orang-orang Belanda. Daerah yang mereka rebut atau mereka bangun, dinamai menurut daerah tempat asal mereka,” tulis Junus Nur-Alir dalam tulisannya berjudul “Mur Jangkung Pendiri Batavia”, seperti termuat dalam antologi Ketoprak Betawi.

Nama Batavia bagi Coen ternyata tidak berarti apa-apa. Menurutnya, daripada menyebut Batavia mending menyebutnya dengan Jacatra (dari Xacatra, nama yang disebut-sebut dalam dokumen Portugis) sebagaimana dalam tercantum dalam surat dan laporannya, J.P. COEN kerap menulis in het casteel Jacatra.

Selama beberapa waktu Coen tetap menolak menggunakan nama Batavia pada Benteng yang ia dirikan. Namun pada 4 Maret 1621, dalam sebuah sidang dewan, pimpinan VOC yang disebut Heren Zeventien memaksa J.P. Coen untuk memakai nama tersebut. Alhasil, mau tak mau Coen pun harus menurut perintah mereka.

Dalam “Mitos atau Sejarah” karangan Adolf Heuken seperti termuat dalam ANTOLOGI KETOPRAK BETAWI, sebelum bernama Batavia, kota ini diebut dengan nama SUNDA CALAPA (s/d 1527), lalu JA (YA) KARTA (1527-1619).

Adapun dokumen tertua yang menyebutkan nama Sunda Calapa adalah Suma Oriental karya Tome Pires, yang memuat laporan kunjungannya dari tahun 1512 – 1515.

Sedangkan nama Ja(ya)karta (tertulis Xacatra) untuk pertama kalinya disebutkan dalam sebuah dokumen tertulis yang berasal dari tahun 1553, yaitu Decadas da Asia karya Joao de Barros.

Hussein Djajadiningrat dalam disertasinya, Critische Beschouwing van de Sadjarah Banten, yang dipertahankan di Universitas Leiden tahun 1913 menyebut bahwa nama Jayakarta bermakna volbrachtezege (kemenangan yang selesai) diberikan oleh Fatahillah (Faletehan) untuk menggantikan nama Sunda Kalapa setelah berhasil ia rebut dari Kerajaan Pajajatan pada 1527.

Pendapat lain yang berbeda muncul dari sejarawan Slamet Muljana yang menyebutkan bahwa Jayakarta berasal dari nama adipatinya yang ketiga, Pangeran Jayawikarta.

Sukanto, guru besar sejarah Fakultas Sastra Universitas Indonesia, pada 1954 melengkapi tanggal dikuasainya Sunda Kalapa oleh Fatahillah yaitu 22 Juni 1527. Sejak itu, Pemerintah Daerah Jakarta Raya kemudian menetapkan tanggal tersebut sebagai hari jadi kota Jakarta.

Adapun nama Jakarta sendiri sudah muncul dan digunakan sejak masa pendudukan Jepang pada 1942 yang mengganti segala hal yang berbau Belanda, termasuk mengubah nama BATAVIA.

Sumber referensi:
Historia
Kit Leiden
Tropen Museum

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here